Kamis, 29 Desember 2011

Pembelajaran dan Apresiasi Seni Rupa


Pembelajaran Seni Rupa pada pendidikan Dasar dan Menengah
Added: Thursday, April 10th 2008 at 11:00am by artbloggue
Related Tags: education
Seni rupa merupakan hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. Seni rupa berperanan dalam memenuhi tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia maupun semata-mata memenuhi kebutuhan estetik. Karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan (indah, unik, atau kegetiran) serta memiliki kemampuan untuk membangkitkan pikiran dan perasaan. Dengan memahami makna tentang bentuk-bentuk seni rupa, akan diperoleh rasa kepuasan dan kesenangan.
Seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni, seni kriya, dan desain. Jenis-jenis seni rupa ini menunjukkan proses pembuatan dan bentuk karya yang dihasilkan, serta nama pembuatnya, yaitu seniman, kriyawan, dan desainer. Seni murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan, meliputi seni lukis, seni patung, dan seni grafis. Seni kriya menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya, dengan hasil berupa karya kriya fungsional dan nonfungsional. Seni kriya menggunakan berbagai teknik dan media tertentu, misalnya kriya kayu, kriya logam, dan kriya tekstil. Desain menunjukkan proses pembuatan karya yang maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. Karya desain merupakan rancangan gambar, benda, atau lingkungan yang didasarkan pada persyaratan-persyaratan tertentu. Seniman atau kriawan dapat bekerja secara mandiri, sedangkan desainerbekerja untuk keperluan klien.
Pembelajaran seni rupa di sekolah mengembangkan kemampuan siswa dalam berkarya seni yang bersifat visual dan rabaan. Pembelajaran seni rupa memberikan kemampuan bagi siswa untuk memahami dan memperoleh kepuasan dalam menanggapi karya seni rupa ciptaan siswa sendiri maupun karya seni rupa ciptaan orang lain.
Melalui pengalaman berkarya, siswa memperoleh pemahaman tentang berbagai penggunaan media, baik media untuk seni rupa dwimatra maupun seni rupa trimatra. Dalam berkarya seni rupa, siswa belajar menggunakan berbagai teknik tradisional dan modern untuk mengeksploitasi sifat-sifat dan potensi estetik media. Melalui seni rupa, siswa belajar berkomunikasi melalui gambar dan bentuk, serta mengembangkan rasa kebanggaan dalam menciptakan ungkapan pikiran dan perasaannya.
Dalam pembelajaran seni rupa, peranan seni murni, kriya, maupun desain bersifat saling melengkapi dan saling berkaitan. Pembelajaran seni rupa dapat dilakukan dengan pendekatan studio, misalnya studio seni lukis, seni patung, seni grafis, dan kriya. Pembelajaran seni rupa dapat juga dipisahkan menjadi kegiatan pembelajaran seni rupa murni, kriya, dan desain.
Materi pokok seni rupa meliputi aspek apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Apresiasi seni rupa berarti mengenal, memahami, dan memberikan penghargaan atau tanggapan estetis (respons estetis) terhadap karya seni rupa. Materi apresiasi seni pada dasarnya adalah pengenalan tentang konsep atau makna, bentuk, dan fungsi seni rupa. Apresiasi seni rupa dapat mencakup materi yang lebih luas, yaitu pengenalan seni rupa dalam konteks berbagai kebudayaan.
Materi pelajaran apresiasi seni pada pendidikan Dasar dan Menengah meliputi pengenalan terhadap budaya lokal, budaya daerah lain, dan budaya mancanegara, baik yang bercorak primitif, tradisional, klasik, moderen, maupun kontemporer. Selain pengenalan bentuk-bentuk seni rupa, materi apresiasi juga meliputi pengenalan tentang latar belakang sosial, budaya, dan sejarah di mana karya seni rupa dihasilkan serta makna-makna dan nilai-nilai pada seni rupa tersebut.
Pembahasan konsep seni rupa meliputi struktur bentuk dan ungkapan (ekspresi) dalam seni murni dan hubungan bentuk, fungsi, dan elemen estetik dalam seni rupa terapan. Pembahasan tentang media seni rupa meliptui ciri-ciri media, proses, dan teknik pembuatan karya seni rupa. Selain itu, apresiasi seni juga perlu memberikan pemahaman hubungan antara seni rupa dengan bentuk-bentuk seni yang lain, bidang-bidang studi yang lain, serta keberadaan seni rupa, kerajinan, dan desain sebagai bidang profesi.
Berkarya seni rupa pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah media seni rupa untuk mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran-gambaran yang baru. Untuk membentuk gagasan, siswa perlu dilibatkan dalam berbagai pendekatan seperti menggambar, mengobservasi, mencatat, membuat sketsa, bereskperimen, dan menyelidiki gambar-gambar atau bentuk-bentuk lainnya. Selain itu, siswa juga perlu dilibatkan dalam proses pengamatan terhadap masalah pribadi, realitas sosial, tema-tema universal, fantasi, dan imajinasi.
Mengolah media pada dasarnya adalah menggunakan bahan dan alat untuk menyusun unsur-unsur visual seperti garis, bidang, warna, tekstur, dan bentuk. Dalam mengolah media, siswa perlu diperkenalkan dengan teknik penggunaan berbagai bahan, dengan memperhatikan keterbatasan-keterbatasan maupun kelebihan-kelebihannya. Dalam menyusun bentuk, siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan bentuk sehingga menjadi gaya yang bersifat pribadi.
Dalam kritik seni, siswa dilibatkan dalam pembahasan karya sendiri maupun karya teman atau orang lain. Pembahasan karya seni rupa di sini merupakan proses analisis kritis, meliputi deskripsi, analisis, interpretasi, dan penilaian. Unsur yang dianalisis adalah gaya, teknik, tema, dan komposisi karya seni rupa. Melalui kegiatan ini, siswa dapat mengasah keterampilan pengamatan visualnya.
Pembelajaran kritik seni rupa memberikan pengenalan dan latihan menggunakan bahasa dan terminologi seni rupa untuk mendeskripsikan dan memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa. Tanggapan ini berkaitan dengan sifat-sifat sensoris karya seni rupa, seperti aspek-aspek taktil (rabaan), spasial (keruangan), dan kinestetik (gerak). Pembelajaran kritik seni juga melatih kemampuan untuk memahami makna-makna yang disampaikan melalui simbol-simbol visual, bentuk-bentuk, dan metafora.
Selain berkarya seni rupa, materi pokok seni rupa juga mencakup penyajian karya seni rupa. Materi penyajian karya seni meliputi penyajian secara lisan di kelas dan pameran di lingkungan kelas, sekolah, bahkan juga di masyarakat. Materi pokok pameran adalah seleksi, pemajangan karya, dan publikasi. Materi pameran juga mencakup kegiatan pengorganisasian pameran, meliputi perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pameran. ( sumber modul UT )

Menjajaki Minat Seni Rupa Melalui Apresiasi Seni
Oleh Agus P
Kamis, 22 September 2005 00:39:00





Berbagai upaya telah ditempuh guna meningkatkan wawasan seni khususnya seni rupa, dalam menjajaki minat seni rupa melalui apresiasi seni. Usaha untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara seniman pencipta),karya seni dan masyarakat dapat dilakukan melalui pameran senirupa, pasar seni, diskusi seni rupa, pembahasan surat kabar, majalah dan masih banyak lagi, namun sampai sejauh mana minat masyarakat (awam, pelajar, senirupawan) dalam berkesenian ?
Seni merupakan ekspresi seniman (pencipta) dan hasil karya seni merupakan cerminan daripada pengamatan dan perasaan yang tidak hanya dinikmati oleh dirinya, karena seniman hidup diantara masyarakat. Oleh karena itu haruslah dinikmati oleh masyarakat.
Melalui apresiasi senilah dapat dijajaki minat seni rupa, disamping memperkenalkan karya seni ciptaan seniman dengan harapan dapat memberi penghargaan selayaknya dan mereka dapat mengerti tentang proses penciptaan karya seni.
Suatu persoalan lagi yang perlu diperhatikan, masih banyak diantara masyarakat kita yang belum dapat menghargai seni maupun arti yang sesungguhnya dari pendidikan kesenian (seni rupa). Hal ini merupakan salah satu contoh bahwa taraf apresiasi masih kurang.
Masalah apresiasi seni penting artinya bagi masyarakat. Juga bagu seniman. Masing-masing akan dapat memperoleh kepuasan berupa kesenangan, kegembiraan dan lain-lain. Apabila hubungan antara seniman dan masyarakat bisa akrab, maka masing-masing akan bergairah. Seniman akan bergairah lagi dalam berkarya karena merasa dihargai karya-karyanya, begitu pula masyarakat bergairah karena imajinasi dapat dijelmakan walaupun melalui orang lain.
Dalam menjajaki minat seni rupa diperlukan kerja sama yang baik bahwa seniman dan karyanya akan berkembang dengan semestinya apabila mendapat dukungan masyarakat, sebaliknya dapat mengajak masyarakat ke arah kreativitas dan sensitifitas (peka) melalui karyanya, namun sejauh mana peranan apresiasi seni dalam menjajaki minat seni rupa?.
Sedikit uraian
Apresiasi dalam bahasa Inggris "appreciate"? artinya menghargai atau penghargaan, penikmatan karya seni dengan adanya pengertian yang baik. Aristoteles (filsuf Yunani) mengatakan, penikmatan yang paling luhur adalah penikmatan intelektual, yaitu bahwa penikmatan seni tidak cukup dengan mutu kerya semata-mata, tetapi dengan tinjauan seluk beluk karya seni dibutuhkan sesuatu bekal kemampuan tertentu, yang didasari suatu pengetahuan tentang seluk beluk karya seni.
Witherington dalam Education Psychology mengatakan bahwa apresiasi ialah kesanggupan mengenal atau memahami suatu nilai yang terletak dalam daerah nilai luhur, apresiasi adalah kesediaan untuk menerima terhadap nilai tertentu dalam setiap fase kehidupan manusia. Dalam apresiasi berlaku tindakan menyadari, menyeleksi bahkan rekreasi atau mencipta kembali.
Ciri-ciri rasa apresiasi
Apresiasi dalam pengajaran seni rupa adalah merupakan wujud penerapan pendidikan estetika dengan kata lain pengalaman estetika seseorang perlu dikembangkan, dan salurannya yang pas adalah kegiatan apresiasi (dikutip oleh Muhajir Nadhiputro dalam Warta Scientia, Januari 1990). Lebih lanjut ditegaskan bahwa melalui kegiatan ini kepekaan rasa (sensitivitas) ikut berkembang pula dan pada gilirannya akan menghadiahkan seperangkat nilai sikap yang sangat manusiawi kepada siswa. Kegiatan apresiasi adalah kegiatan yang bersifat psikologis (oleh karenanya tidak nampak) tetapi daripadanya diharapkan dapat membangun sikap atau perilaku siswa yang meskipun tak bersifat fisik namun dapat diamati. Seyogyanyalah kegiatan apresiasi seni dalam peningkatannya yang sempurna dimengerti sebagai penghayatan total, bukan hanya mengembangkan rasa tetapi juga mengembangkan pikiran. Dalam pengajaran apresiasi tidak bersifat pasif terlena dalam penikmatan rasa, akan tetapi bersifat aktif bahkan kreatif. Bagi seorang apresiator yang sedang melakukan penghayatan, betapapun juga tak cukup puas dengan kenikmatan rasa yang diperoleh dari karya seni dihadapannya. Dia akan coba memahami dengan menafsir-nafsirkan makna dan mencari nilai yang dikandung oleh karya seni tersebut untuk sampai pada suatu penghargaan sebagaimana mestinya.
Selanjutnya ciri-ciri rasa apresiasi dijelaskan lebih lanjut oleh Primadi, ITB 1978 bahwa rasa apresiasi seseorang yang dihadapkan pada suatu karya, berhubungan dengan ciri-ciri kreasi karya tersebut, yang meliputi kejutan (surprise), empati, rasa betul-estetis, simpati, rasa benar, etis, terpesona dan terharu.
Kejutan (Surprise)
Apabila kita terjadi rasa apresiasi kejutan saat berhadapan dengan karya seni, maka ciri karya tersebut merupakan ciri pribadi penciptanya. Kejutan tak cukup untuk menunjukkan mutu suatu karya, yang menunjukkan rasa kejutan spontan hanya memancing kejutan saat jumpa pertama kali, tapi bisa bosan setelah duatiga kali melihatnya.
Empati
Bila kejutan adalah jatuh cinta pertama pada suatu karya seni , maka kita mengalami rasa apresiasi empati utama dan rasa seempati biasa yaitu baru belakangan kita jatuh cinta setelah lama kenal.
Rasa-betul-estetis
Dalam apresiasi terhadap karya seni (seni rupa) rasa betul estetis melalui proses rasionil, karena estetika dapat didekati sebagai ilmu pengetahuan.
Simpati
Suatu karya seni selain membangkitkan rasa empati juga rasa simpati yang berhubungan dengan etika atau isi pesan/conten suatu karya. Simpati merupakan proses intuitif dan terjadi setelah kita mengamati karya tersebut.
Rasa-benar-etis
Untuk mencapai rasa benar etis melalui proses rasionil, dimana rasa apresiasi sebagai apresiator dapat mengerti jalan cerita karya seni dan dapat menghayati suatu karya seni.
Terpesona
Pada umumnya empati muncul lebih dulu dari simpati, dan apabila karya seni mampu membawa apresiator mencapai empati dan simpati, maka karya tersebut akan segera membawa apresiator mencapai rasa apresiasi terpesona yang merupakan penghayatan atas ciri karya seni
Terharu
Suatu karya seni yang mampu menyebabkan kita mencapai puncak rasa apresiasi adalah rasa terharu, yaitu meleburnya rasa empati, simpati terpesona menjadikan penghayatan secara total. Dari uraian tentang apresiasi baik dalam pengajaran maupun ciri-ciri apresiasi dapatlah disimpulkan bahwa apresiasi seni tidak hanya menghargai suatu karya seni akan tetapi diperlukan suatu pengetahuan tentang seluk beluk karya seni rupa dan kepekaannya terhadap nilai-nilai seni.
Dalam pengajaran seni rupa, untuk membangkitkan minat senirupa bagi siswa tidak hanya merupakan kegiatan psikologis yang seolah-olah tidak tampak tetapi mempunyai sifat aktif dan kreatif. Tumbuhnya minat seni rupa melalui apresiasi seni sangat dipengaruhi oleh ciri-ciri rasa apresiasi, sehingga dapat kita jajaki sejauh mana minat terhadap seni rupa melalui apresiasi seni.
Cara menjajaki minat seni rupa
Guna menjajaki minat seni rupa dapat ditempuh dengan beragam cara antara lain :
Pameran seni rupa
Cara ini memungkinkan apresiator (publik) dapat berdialog langsung dengan karya seniman, yang memungkinkan akan lebih tersentuh rasa estetisnya karena berhadapan secara langsung. Dan apabila publik mempunyai minat yang tinggi (kritis sekali), biasanya langsung dapat menanyakan kepada seniman apa-apa yang dihasilkan. Hubungan timbal balik ini secara komunikatif merupakan langkah yang dinamis dalam menjajaki minat seni rupa.
Pembahasan media massa
Melalui pembahasan surat kabar (koran) akan dapat menjangkau ke seluruh pelosok tempat, yang mengulas kegiatan seni rupa dengan demikian dapat mendidik apresiasi. Seringnya rubrik tentang seni rupa, maka lambat laun minat masyarakat terhadap seni rupa dapat berkembang.
Berkurangnya minat seni rupa karena masih banyak anggapan bahwa seni hanya dimengerti oleh orang-orang yang berbakat seni saja, karenanya mereka bersikap acuh tak acuh dan karena itulah koran dapat dengan mudah mendekati minat apresiasi secara umum.
Majalah
Ini sebenarnya sama saja dengan koran dan majalah dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu majalah biasa dan khusus. Adapun majalah biasa hanya membahas secara sepintas kilas dan dalam uraiannya tidak terlalu mendetail dikarenakan ruang kolom sangat terbatas.
Majalah khusus adalah mengupas secara khusus tentang kesenian, mengomentari dan sebagainya seperti majalah Budaya, Horizon, Titian dan lain-lainnya.
Buku-buku seni rupa
Buku-buku biasanya memuat masalah seni rupa sejelas-jelasnya, baik mengenai biografi, kehidupan, latar belakang, gaya karya seni, jensi, foto yang biasanya termuat secara lengkap. Buku-buku asing sebaiknya diterjemahkan sehingga minat untuk membaca tidak kesulitan dan dapat dimengerti.
Pasar seni
Pasar seni (Art Fair), pada umumnya disamping dipamerkan karya seni dari seni murni dan terapan juga sekaligus menjual barang-barang seni. Fungsi dari pasar seni ini disamping menonton dan membeli karya seni juga mendidik apresiasi dan minat terhadap karya seni. Seperti biasanya pasar seni ini lebih banyak dapat mengumpulkan penonton dari pada pameran yang diselenggarakan di gedung tertentu, maka kegiatan pasar seni ini sangat baik untuk menjajaki minat terhadap seni rupa. Dengan seringnya diadakan pasar seni maka akan semakin mendekatkan antara seniman dan masyarakat.
Film seni rupa dan slide
Cara ini juga merupakan cara untuk menjajaki minat terhadap seni rupa publik. Dengan memperkenalkan karya-karya seni rupa akan lebih komunikatif melalui film atau slide karena hasilnya proyeksi bergerak hidup dan slide gambarnya diam. Ada baiknya film dan slide ini diputar bagi mereka yang masih kurang minatnya tentang seni rupa.
Diskusi seni rupa
Cara ini biasanya dilakukan setelah acara usai atau dirancang secara khusus. Kegiatan diskusi ini biasanya kebanyakan dihadiri oleh mereka yang intelek, sedangkan orang awam jarang terdapat disini. Dalam diskusi ini lebih banyak memancing emosi dan minat, sehingga dapat menambah pengalaman dari masing-masing peserta. Oleh karena diskusi seni rupa ini tempat berdebat saling menjajaki kemampuannya yang memerlukan rasio, bahkan kadang-kadang emosipun turut meledak.
Art centre, Gallery, Museum.
Ketiga tempat ini memungkinkan penonton dapat menikmati setiap saat. Semuanya ini adalah tempat untuk berapresiasi tentang seni rupa yang digelarkan.
Cara-cara tersebut sangat efektif guna menjajaki minat masyarakat (publik, penonton) melalui apresiasi seni rupa.
Selain cara-cara tersebut di atas kiranya persoalan yang tidak kalah penting adalah, memberikan motivasi dan rangsangan terhadap minat dan apresiasi masyarakat mengenai seni rupa.
Sudah barang tentu didukung oleh keadaan ekonomi yang seimbang, yang berarti sebagian kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, papan dan sebagainya makin terpenuhi. Kondisi ini akan di dukung adanya kebutuhan non fisik
seperti menikmati, minat seni, memiliki karya seni dan sebagainya.
Dari apa yang dijelaskan, dapatlah saya ajukan kesimpulan sementara dalam menjajaki minat seni rupa melalui apresiasi seni bahwa menjajaki (mengetahui sejauh mana) minat (hasrat, keinginan, kemauan, harapan) terhadap seni rupa yang merupakan dorongan bathin (pribadi masyarakat publik). Dalam menanggapi (mengapresiasi) karya seni rupa dipengaruhi oleh ciri-ciri rasa apresiasi dan diperlukan cara-cara menjajaki minat seni rupa. Untuk mengetahui sejauh mana minat terhadap seni rupa, akan makin meningkat perlu dicari cara-cara apresiasi seni rupa ditingkatkan mutunya dan perlu diteliti dahulu.
Bagaimana caranya mengetahui minat terhadap seni rupa, dari lapisan masyarakat yang seperti apa, dimanakah sebenarnya kedudukan dan peran seni rupa dan seterusnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar